Pola Peresepan Rasional dan Penggunaan Obat Rasional

7 04 2010

Saya tergelitik untuk ikut menanggapi masalah rasional dan irasional drug use atau juga masalah pola peresepan yang irasional.

Hal ini sangat menarik untuk saya dan selama ini bersama rekan-rekan di kantor sudah beberapa kali melakukan survey masalah rasionalitas peresepan dan penggunaan obat. Topik ini pula yang  saya angkat dalam tesis saya . Terlepas dari semua sisi medical farmakologis, saya akan berencana untuk fokus pada sisi kualitatif dan sisi sosialnya. Satu hal yang sering terabaikan dalam edukasi penggunaan obat adalah aspek budaya, beliefs , values.

Selama ini fokus edukasi selalu berputar hanya pada tenaga profesional kesehatan dan melupakan sisi ordinary people, padahal jelas setiap orang akan punya pengertian sendiri mengenai masalah kesehatan dan bagaimana menanganinya, dengan justifikasi sendiri-sendiri yang mungkin sekali di luar perkara medis. Inilah yang disebut “popular health sector”, dan “folk health sector yang termasuk di dalamnya adalah pola-pola pengobatan tradisional, pengobatan sendiri dengan obat modern serta saran-saran dari berbagai pihak antara lain keluarga, tetangga dan termasuk nasihat “ibu dokter” (alias istrinya pak dokter), pengobatan supranatural yang tentu saja termasuk kasus “Ponari”.

Menariknya adalah menurut referensi lebih dari 90% penanganan masalah kesehatan justru mengandalkan dua sektor tadi, dan baru sisanya mengambil “professional sector”. Jadi dari perspektif sosial tidak ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa kita harus bergantung pada sektor profesional.

Mengenai dokter, cara meresepkan dll sepertinya harus dilihat juga dari aktor lain yaitu perawat dan farmasis. Meskipun memang sebagian besar peresepan selalu berawal dari dokter, dan umumnya sebagian besar pasien dianggap pasif dalam hal ini, jadilah pasien hanya sebagai objek penderita dari segala keputusan yang dibuat dokter, perawat dan farmasis dalam hal pengobatan, tanpa agency (kemampuan untuk bernegosiasi) . Hanya sebagian kecil orang yang bisa bernegosiasi atau mempengaruhi dokter dalam urusan peresepan.

Ini adalah hal yang sering sekali membuat saya jengah tetapi juga lemah, peresepan irasional untuk kasus ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) dengan gejala batuk-pilek pada anak dengan penyebab virus, yang hampir selalu dibombardir dengan antibiotik branded-mahal (biasanya sudah antibiotik spektrum luas, generasi baru) dan juga dengan beberapa kombinasi obat branded yang diulek jadi puyer, kadang antibiotik dan antivirus dicampur, kadang 4-5 obat sekaligus, kadang sampai 10 lebih sediaan obat dalam 1 lembar resep. Dan kalau saya menolak, dokter selalu ada alasan : ga manjur tanpa antibiotik, ga mempan kalo ga dibuat puyer. Kalaupun saya menolak menebus resep antibiotik, maka pihak apotek akan memandang saya dengan aneh dan wajah jutek. maklum lah biaya antibiotik bisa mencapai 70% dari total biaya obat. Padahal, menghindari antibiotik untuk kasus viral ISPA terbukti mengurangi kejadian ISPA berulang pada anak-anak. Dan perlu disadari bahwa sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus, bukan bakteri.

Memang banyak yang perlu dibenahi, hhhmm jadi mikir gimana mengatasi masalah yang sudah sangat parah di Indonesia… puyeng, ah.

Yuyun Yuniar,S.Si.,Apt, MA

Seorang farmasis, ibu dari 2 anak -yang sering jengkel dengan pola peresepan anak-tetapi tetap melakukan pilihan terakhir dengan mendatangi DSA- dan dengan terpaksa juga nuruti resep yang ditulis.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: