Baby Blues or Baby Bless (Bagian ke-1: Medikalisasi)

5 09 2010

Setelah menunggu selama hampir 40 pekan akhirnya putri ketiga saya lahir normal setelah proses induksi. Kelahiran Wafa melengkapi keberadaan 2 putri sebelumnya, sehingga lengkaplah keluarga kami dengan kehadiran 3 gadis kecil. Walhasil si ayah masih jadi yang terganteng hingga saat ini.

Sedikit berbeda dengan kedua kakaknya, kelahiran Wafa tidak diawali dengan kontraksi, bahkan hingga saat melahirkan kontraksi yang terjadi masih tidak teratur. Akhirnya proses induksi menjadi pilihan.

Pada hari Senin 26 Juli pagi saya ke rumah sakit “X” menemui dokter kandungan yang biasa saya temui di RB “Y”. Saya memutuskan untuk tetap melahirkan di RB dengan berbagai pertimbangan khususnya biaya. Sebagai PNS, Askes hanya membantu biaya persalinan hingga anak kedua, padahal saya sendiri baru menggunakan Askes sekali yaitu untuk anak kedua saya. Pada saat itu pun system yang diterapkan berupa cost sharing sehingga meskipun saya melahirkan di RS pemerintah tetapi biaya yang ditanggung Askes hanya sekitar 45% pada saat itu, sisanya saya harus membayar sendiri.

Sekembalinya dari Thailand saya merasakan mahalnya biaya yang harus dibayar sejak pemeriksaan kehamilan. Saya yang biasa tidak bayar ketika memeriksakan kehamilan di Thailand, ketika pulang terkaget-kaget ketika harus membayar biaya pemeriksaan yang mencapai sekitar 250 ribu untuk USG dan print 2 dimensi di sebuah RS swasta. Cukup memberatkan untuk seorang PNS yang tidak punya jamsostek atau asuransi kesehatan lainnya.

Pertimbangan untuk menyisihkan sebagian biaya untuk akikah menjadi alasan tambahan sehingga saya memilih untuk melahirkan di RB Y tempat dulu anak pertama saya lahir.

Saya berusaha menepis keraguan dengan penuh harapan agar kelahiran bisa berjalan normal tanpa operasi cesar. Alhamdulillah 2 anak sebelumnya pun lahir spontan, sehingga saya cukup berbesar harapan akan kelahiran anak ketiga pun dengan proses normal.

Lagipula, saya teringat suatu diskursus (discourse) ketika saya menjalani kuliah S2 saya yaitu tentang medikalisasi. Proses melahirkan sebenarnya merupakan proses normal dan alami seperti di masa lampau, bahkan seseorang bisa saja melahirkan tanpa bantuan orang lain. Semakin lama melahirkan menjadi proses yang mengalami medikalisasi, orang akan berpikir melahirkan harus di rumah sakit, dengan bantuan medikal profesional. Sedikit sekali orang yang berpikir untuk melahirkan di rumah. Maka muncul pula trend membawa kembali proses melahirkan menjadi proses rumahan yang dikenal dengan home birth. Trend di negara barat mulai beralih kembali ke home birth ini. Satu lagi konsep medikalisasi yang sangat kentara ketika orang memilih operasi cesar tanpa indikasi medis yang jelas melainkan karena trend atau alasan lain misalnya untuk memelihara kecantikan, menghindari rasa sakit ataupun agar bisa memilih tanggal kelahiran yang diinginkan. Proses kelahiran yang sebenarnya peristiwa natural jelas harus berada di suatu tempat bernama ”rumah sakit” di suatu ruang bernama ”ruang operasi” dengan segala atributnya.

Hal ini semakin memantapkan saya untuk memilih tempat melahirkan yang memiliki suasana ”like home”, dengan orang-orang yang juga lebih memiliki suasana kekeluargaan, lebih santai. Tetapi pertimbangan penting adalah penerapan proses melahirkan yang pro normal, pelaksanaan IMD dan pro ASI eksklusif. Saya telah mengalami kegagalan memberikan ASI eksklusif pada dua anak sebelumnya, cukup sudah itu semua. Dan kali ini saya akan berusaha semampu saya, memantapkan kepercayaan diri, membuat suasana sekondusif mungkin untuk berlangsungnya IMD dan ASIX. Kondisi psikologis yang mendukung sangat penting, dan itu yang mungkin tidak saya miliki saat anak terdahulu. Saya tidak yakin asi cukup, saya merasa tidak nyaman, dan sangat mungkin saya mengalami kelelahan secara fisik akibat bekerja ataupun baby blues syndrome. Kali ini saya bertekad harus menciptakan suasana yang mendukung demi masa depan anak saya.

Hidup ASI eksklusif !


Actions

Information

One response

6 09 2010
Herwindo Iman Adhiwijaya

Ini mirip persalinan dibantu paraji zaman dulu… Homebirthed itu memungkinkan, tapi syarat dan ketentuan berlaku :(( beberapa diantaranya 4 kali pemeriksaan antenatal (K4) terpenuhi, kontraindikasi (hipertensi kehamilan, anemia, panggul sempit relatif) disingkirkan, sistim rujukan berjalan baik, dan dukungan keluarga/masyarakat siaga. Cakupan tenaga penolong persalinan yang sudah mengikuti training Asuhan Persalinan Normal (APN, metode persalinan ibu dan perawatan bayi oleh satu bidan/paraji penolong) masih rendah. Rasanya dengan kondisi yang ada sekarang tingkat kematian Ibu melahirkan saja masih 2,7 per 10000 kelahiran, tertinggi se-ASEAN. Mostly, telat mengenal komplikasi dan telat melakukan rujukan. Benar-benar cerminan di mana the poverty meet the undeed. Mudah-mudahan ke depannya jika masyarakat Indonesia sudah well educated maka model kemandirian mirip ‘homeschooling’ bisa terpenuhi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: