Baby Blues or Baby Bless (bagian ke-3 : IMD, rooming in dan ASIX)

5 09 2010

Saya tidak salah pilih RB, saat itu saya adalah pasien satu-satunya. Setiap kali waktu makan tiba saya selalu melahap habis makanan yang disediakan. Enaaak.

Bidan-bidan yang bertugas juga sangat membantu dan friendly.

Sesaat setelah si bayi lahir, IMD pun segera dilaksanakan. Kebahagiaan dan rasa lega yang luar biasa melingkupi saya dan suami saat itu. Wafa lahir dengan berat 3350 kg dan panjang 50 cm. Cukup montok dibanding kedua kakaknya. Kelegaan luar biasa karena sudah tidak ada kewajiban menahan rasa ingin mengejan, yang bagi saya adalah bagian tersulit setiap kali melahirkan.

Baru kali ini saya menikmati IMD. Rasa yang luar biasa. Kehangatan yang terasa menyebar, mengikatkan saya dan si bayi. Sayang sekali saya masih merasa mulas akibat sisa-sisa induksi, makin lama rasa mulas makin hebat, kontraksi makin kuat. Sekitar 15 menit kemudian saya meminta bayi saya diambil dan menyudahi proses IMD, karena saya merasakan mulas yang kuat. Dokter bilang kontraksi ini sebenarnya mempunya intensitas yang lebih kuat dibanding kontraksi saat kelahiran, tp mungkin terasa lebih ringan karena tidak ada beban mengeluarkan si bayi. Proses ini justru baik dengan kondisi perut saya keras seperti batu.

Sekitar 3 jam kemudian saya dipindah ke ruangan perawatan dengan bayi bersama saya. Segera kembali saya berusaha menyusuinya meskipun saya tahu ASI belum keluar. Si kecil sudah pandai menghisap rupanya, nyata ia haus karena berkali-kali menangis semalaman. Sampai suatu saat saya pun mengetuk pintu bidan jaga dan mengatakan bahwa si kecil menangis terus. Mba Bidan bertanya apa saya berniat memberi susu formula? Tapi kemudian ia segera berkata : ”sayang Bu, lanjutkan saja, memang harus sabar karena ia akan menangis terus karena haus, biarkan ia menyusu meskipun blm ada ASI yang keluar. InsyaAllah akan segera keluar.”

Saya pun kembali ke ruangan dan menguatkan tekad, insyaAllah bisa. Teorinya saya sendiri tahu kalau si bayi sebeneranya tahan sampai 2 hari tanpa ASI atau sufor, tapi tangisannya kadang membuat tidak tega. Saya pun kembali menyusuinya, berkali-kali hingga lama-lama terasa sudah ada tetesan kolostrum yang keluar. Sakit mulai terasa pada kedua PD saya, perih mungkin karena latch on yang belum tepat.

Dua malam saya lalui di ruangan itu berdua bersama makhluk kecil yang baru saja melihat dunia.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: